Oleh: Novi Dwi A.
1.
Judul Puisi
Anak
Pedati
2.
Nama Penyair dan Biografi Pengarang
Anas Ma’ruf adalah Sastrawan Angkatan 45,
beliau merupakan salah satu Sastrawan Indonesia. Beliau Lahir pada tanggal 27
Oktober 1922 di Bukit Tinggi, Sumatra Barat.
Tetapi pada tanggal 17 Agustus 1980 beliau wafat di
Jakarta. Anas Ma’ruf merupakan salah satu dari banyaknya Sastrawan Indonesia
yang beragama Islam.
Anas Mar’ruf mengenyang Pendidikanya di SMT di Jakarta dan tamat pada tahun 1945. Selain mengenyang
Pendidikan di SMT beliau juga pernah menjadi Mahasiswa di Fakultas Universitas
Gadjah Mada pada tahun 1948.
Sebelum
Menyelesaikan Pendidikannya Anas Ma’ruf
juga sudah terjun ke lapangan Jurnalistik, beliau juga merupakan pendiri
Sebuah surat kabar Berita Indonesia
di Jakarta pada tahun 1945. Menjadi pemimpin umum majalah Nusantara tahun 1946,
redaktur maajalah kebudayaan Arena dan
majalah Patriot di Yogyakarta pada
tahun 1946-1947, anggota redaksi majalah Indonesia
tahun 1950-1952. Dan juga pernah menjadi Sekertaris Badan Musyawarah
Kebudayaan Nasional tahun 1955-1957 selain menjadi pegawai Balai Pustaka. Pada masa penjajahan jepang Anas Ma’ruf
menterjemahkan beberapa buku antara
lain: Kabir, Gitanjali, Citra dan
Sadhana yang di terjemahkan pada masa Republik Indonesia (merdeka), dari
keempat buku tersebut merupakan terjemahan dari karya Rabindranath Tagore.
Buku terjemahan yang lain: Komedi Manusia karya William Saroyan dan Mutiara karya Steinbeck.
Dan Karya beliau lainnya
berjudul Nyalakan Terus, Antara
Kita, Pandai Masa yang merupakan Sajak.
Selain karya-karya yang sudah beliau buat salah satunya
adalah puisi yang berjudul Anak Pedati.
3. Latar Belakang
Anas ma’uf membuat puisi yang berjudul anak
pedati dikaitkan dengan kehidupan dalam masyarakat berupa sebuah penantian atau
harapan. Puisi karya Anas Ma’ruf ini merupakan penyampaian harapan seseorang
akan sebuah penantian yang belum dapat
digapainya.
4. Waktu
Penciptaan Puisi
Puisi yang diciptakan Anas Ma’ruf di ambil dari kehidupan masyarakat yang ada.
Puisi ‘’Anak Pedati’’ diambil dari
kehidupan masyarakat yang diceritakan ketika ada seseorang yang sedang
menantikan sebuah penantian atau harapan tetapi tak kunjung datang.
Misal, baris pada puisi yang menyatakan
sebuah penantian atau harapan yaitu: Menanti balasan cinta kasih
Pernah kurasa terbangkit hasrat
Mendengar gubahan cipta rasa
Kurnia simpanan anak pedati
5. Puisi
Anak
Pedati
Di
bawah cahaya bulan purnama
Sebaris
pedati tampak beriring
Suara
gentanya redup bergema
Melalui
lembah sunyi berdenging
Bertiup
lagu puputan rindu
Lembut
mengalun dengung salung
Hanyut
sukma dihilirkan lagu
Ikut
berayun dengan senandung
Serantih
digubah berlarat-larat
Menurut
getaran jiwa bercinta
Menanti
balasan cinta kasih
Pernah
kurasa terbangkit hasrat
Mendengar
gubahan cipta rasa
Kurnia
simpanan anak pedati
6. Unsur-unsur
Instrinsik Puisi Anak Pedati
a. Tema:
Penantian
Seorang yang
mengharapkan atau menantikan sesuatu tetapi
belum juga mendapatkannya.
b.
Diksi
Diksi
sebagai salah satu unsur puisi berarti pemilihan kata yang dilakukan oleh
penyair untuk mengetengahkan yang bergejolak dalam dirinya.
Pemilihan kata yang
di gunakan Anas Ma’ruf dalam puisi ‘’anak pedati’’ pemilihan katanya sukar
untuk dipahami tetapi makna yang terkandung dalam kata-kata setiap barisnya
mempunyai makna yang mendalam.
Misal:’’ Lembut
mengalun dengung salung’’
Menggunakan pilihan
kata yang sukar untuk dipahami pembaca untuk menemukan maksud dan pesan yang
akan di sampaikan, seperti kata ‘’salung’’.
c.
Majas
Puisi Anas Ma’ruf yang berjudul anak pedati menggunakan:
Majas Personifikasi, (majas yang meletakan
sifat-sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak).
Misal: Bertiup lagu puputan
rindu, (Lagu tidak mungkin ditiup).
d.
Amanat dalam puisi
Dalam
puisi anak pedati memberikan pesan kepada
pembaca :
v Agar
jangan putus asa dalam menggapai sesuatu.
v Jangan
terlarut dalam keinginan yang belum dapat di capai.
v Segala
suatu yang kita harapkan pasti akan ada jalan untuk menggapainya.
e.
Gaya Bahasa
Gaya
bahasa yang digunakan pada puisi ‘’anak pedati’’ yaitu bahasa puisi bersifat
ekspresif, artinya setiap bunyi yang dipilih, setiap kata yang dipilih berfungsi untuk kepentingan ekspresi, mampu
memperjelas gambaran dan mampu menimbulkan
kesan yang kuat.
Puisi
bersifat Asosiatif, artinya mampu membangkitkan pikiran dan perasaan, tetapi
masih di seputar makna yang sudah lazim.
f.
Isi Puisi
Isi
yang terkandung dalam puisi merupakan sebuah penantian seseorang akan hadirnya
buah hati, dimana seseorang tersebut menantikan datangnya sebuah penantian yang tak kunjung di dapatkan.
Seorang yang kesepian yang sangat mengharapkan atau merindukan sosok seorang
anak dalam kehidupannya. Tetapi penantiannya belum terpenuhi. Orang tersebut
selalu merenung sendiri meratapi disaat
malam hari yang sunyi di bawah cahaya bulan purnama yang menemaninya dalam
lamunannya. Terkadang hati ikut merasakan Susana hening pada saat itu. Dalam
suasana yang hening hanya ada suara angin yang terhempas sambil menghelakan
nafas, dalam hati selalu berharap dan berharap akan datangnya sosok yang
dirindukan. Dengan khayalan dan angan yang membuatnya semakin dalam pada
penantian tersebut.
g.
Bunyi / ritme dalam puisi
Anas
Ma’ruf dalam puisinya menggunakan nada yang halus dan menekankan pada setiap
kata-katanya, tetapi kata-kata yang beliau gunakan sukar untuk di pahami apa maksud
dari kata tersebut.
Misal:
“Mendengar gubahan cipta rasa’’
(dalam
baris tersebut saya mendeskripsikan bahwa seorang tersebut ingin mendengarkan
tangisan seorang anak).
h.
Penggunaan Citraan dalam puisi
Pemberian gambaran pada puisi ‘’anak pedati’’ ini ada 3,
yaitu:
1.
Penglihatan
Misal: Di bawah cahaya bulan purnama
Sebaris pedati tampak
beriring
2.
Pendengaran
Misal: Suara gentanya sunyi berdenging
Melalui lembah sunyi berdenging
3.
Perasa
Misal: Lembut mengalun dengung salung
i.
Alat retorika
Puisi Anas
Ma’ruf tidak menggunakan alat retorika
dalam puisinya, seperti adanya kata ulang, kalimat Tanya, pembalikan.
Kesimpulan:
Puisi Anas Ma’ruf bertemakan sebuah
penantian yang memberikan informasi kepada pembaca akan pentingnya ketegaran
dalam mengharapkan sesuatu dalam hidup , tidak mudah putus asa, tidak terlarut
dalam kesedihan menjalani kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar